Acute Appendicitis
Posted in: Uncategorized | Comments (0)
PENDAHULUAN
Acute appendicitis atau radang apendiks akut merupakan kasus infeksi intraabdominal yang sering dijumpai di negara-negara maju, sedangkan pada negara berkembang jumlahnya lebih sedikit, hal ini mungkin terkait dengan diet serat yang kurang pada masyarakat modern (perkotaan) bilang dibandingkan dengan masyarakat desa yang cukup banyak mengkonsumsi serat. Appendicitis dapat menyerang orang dalam berbagai umur, umumnya menyerang orang dengan usia dibawah 40 tahun, khususnya antara 8 sampai 14 tahun, dan sangat jarang terjadi pada usia dibawah 2 tahun.
PATOFISIOLOGI
Appendicitis dapat terjadi karena berbagai macam penyebab, antara lain obstruksi oleh fecalith, a gallstone, tumor, atau bahkan oleh cacing (Oxyurus vermicularis), akan tetapi paling sering disebabkan obstruksi oleh fecalith. Hasil observasi epidemiologi juga menyebutkan bahwa obstruksi fecalith adalah penyebab terbesar.
Pada fase awal appendicitis, mukosa mengalami inflamasi terlebih dahulu. Kemudian inflamasi ini akan meluas ke lapisan submukosa, termasuk juga lapisan muskularis dan lapisan serosa. Terbentuk pula eksudat fibrinopurulen pada permukaan serosa dan menyebar ke dinding peritoneal terdekat, sehingga menyebabkan peritonitis.
Pada fase ini glandula mukosa yang nekrosis masuk ke dalam lumen usus, sehingga menyebabkan terjadinya nanah atau pus di dalam lumen. Akhirnya, pembuluh-pembuluh kapiler yang mensuplai darah ke appendix mengalami trombose dan appendix yang infark tersebut menjadi nekrosis atau gangrenous. Setelah mengalami nekrosis, appendix
dapat mengalami perforasi, sehingga kandungan yang terdapat dalam lumen appendix, seperti pus, dapat menyebar di cavitas peritoneal dan menimbulkan peritonitis.
TANDA-TANDA KLINIS
Pada appendicitis klasik, mula-mula pasien merasakan nyeri pada bagian tengah abdominal, tepatnya pada periumbilikal. Hal ini disebabkan oleh spasme otot yang merupakan reaksi terhadap obstruksi appendix. Selain nyeri tersebut pasien biasanya juga mual dan muntah. Setelah inflamasi berjalan 12-24 jam, inflamasi yang tadi hanya terjadi
pada dinding appendix kini telah mencapai peritoneum bagian parietal (dipersarafi oleh saraf somatik), sehingga timbul rasa nyeri yang terlokalisasi di kuadran kanan bawah abdomen, biasanya peritonitis lokal ini juga ditandai dengan abdominal tenderness. Tanda-tanda dari appendicitis klasik ini dapat ditemukan kurang dari setengah kasus yang terjadi.
Selain tanda-tanda dari appendix klasik, ada juga tanda-tanda lain yang muncul pada appendicitis. Bila appendix berada di dekat rektum, maka itu dapat menyebabkan iritasi lokal dan diarrhoea. Bila appendix terletak dekat dengan vesica urinaria atau ureter, maka itu dapat menyebabkan dysuria dan pyuria (secara mikroskopik).
DIAGNOSIS APPENDICITIS
Appendisitis akut dapat didiagnosis secara klinis dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik (physical examination). Selayaknya diagnosis sesegera mungkin ditegakkan dan appendix dapat segera diangkat bila ternyata terjadi appendisitis. Diagnosis menjadi mudah untuk ditegakkan bila tampak tanda dan gejala dari appendisitis klasik pada pasien, tanda dan gejala tersebut seperti: a. Nyeri pada bagian abdominal kurang dari 72 jam; b. Muntah 1-3 kali; c. Facial flush; d. Tenderness pada fossa iliaca kanan; e. Demam dengan suhu antara 37,3-38,5 °C; f. Tidak ada bukti terjadi infeksi traktus urinarius pada pemeiksaan urin dengan mikroskop.
Tanda inflamasi peritoneal bagian fossa iliaca kanan yang berupa rasa nyeri, sering tidak tampak. Untuk itu kita perlu untuk menyuruh pasien agar batuk, bila terjadi inflamasi pada peritoneum parietal maka pasien akan merasakan nyeri. Selain itu dapat dilakukan rebound tenderness untuk membantu menegakkan diagnosis, yaitu dengan melakukan perkusi pada fossa iliaca kanan, rasa nyeri akan diraskan oleh pasien akibat perkusi bila pasien tersebut mengalami peritonitis.
Pada saat menegakkan diagnosis perlu juga diperhatikan diagnosis banding dari appendisitis. Kondisi lain yang sering mengkaburkan diagnosis appendisitis adalah infeksi traktus urinarius (cystis atau pyelonephritis), mesentetic adenitis, konstipasi, pankreatitis akut,dll.
MANAJEMEN DARI APPENDICITIS
Pada pasien yang kita duga appendisitis kita dapat melakukan manajemen sebagai berikut. Bila kita mendapati pasien dengan nyeri pada fossa iliaca kanan, dan pasien itu memiliki tanda dan gejala lain dari appendisitis sehingga kita dengan yakin mendiagnosisnya sebagai appendisitis, maka segera lakukan appendicectomy.
Bila kita mendapati pasien dengan nyeri pada fossa iliaca kanan, namun belum dapat dipastikan diagnosis dari pasien tersebut apakah appendisitis atau penyakit lainnya, maka kita harus mereview pasien tersebut secara periodik, bila perlu pasien kita sarankan untuk rawat inap agar dapat dipantau perkembangannya dengan baik, bila setelah
dipantau masih menimbulkan keraguan maka kita dapat melakukan pemeriksaan-pemeriksaan yang dapat mendukung diagnosis, seperti memeriksa urine secara mikroskopis, X-ray, full blood count, dan serum amylase.
Sedangkan bila kita mendapatkan pasien dengan keluhan nyeri pada fossa iliaca kanan, dan setelah kita pelajari ternyata pasien tidak mengalami appendisitis, maka kita harus memberi pengobatan sesuai dengan apa yang diderita pasien.
syarif @ April 17, 2010
Fibroadenoma Mammae
Posted in: medicine | Comments (0)
Pendahuluan
Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak yang sering terjadi di payudara. Benjolan tersebut berasal dari jaringan fibrosa (mesenkim) dan jaringan glanduler (epitel) yang berada di payudara, sehingga tumor ini disebut sebagai tumor campur (mix tumor), tumor tersebut dapat berbentuk bulat atau oval, bertekstur kenyal atau padat, dan biasanya nyeri. Fibroadenoma ini dapat kita gerakkan dengan mudah karena pada tumor ini terbentuk kapsul sehingga dapat mobil, sehingga sering disebut sebagai ”breast mouse”.
Etiologi dan Epidemiologi
Penelitian saat ini belum dapat mengungkap secara pasti apa penyebab sesungguhnya dari fibroadenoma mammae, namun diketahui bahwa pengaruh hormonal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dari fibroadenoma mammae, hal ini diketahui karena ukuran fibroadenoma dapat berubah pada siklus menstruasi atau pada saat kehamilan. Perlu diingat bahwa tumor ini adalah tumor jinak, dan fibroadenoma ini sangat jarang atau bahkan sama sekali tidak dapat menjadi kanker atau tumor ganas.
Fibroadenoma mammae biasanya terjadi pada wanita usia muda, yaitu pada usia sekitar remaja atau sekitar 20 tahun. Berdasarkan laporan dari NSW Breats Cancer Institute, fibroadenoma umumnya terjadi pada wanita dengan usia 21-25 tahun, kurang dari 5% terjadi pada usia di atas 50, sedangkan prevalensinya lebih dari 9% populasi wanita terkena fibroadenoma. Sedangkan laporan dari Western Breast Services Alliance, fibroadenoma terjadi pada wanita dengan umur antara 15 dan 25 tahun, dan lebih dari satu dari enam (15%) wanita mengalami fibroadenoma dalam hidupnya. Namun, kejadian fibroadenoma dapat terjadi pula wanita dengan usia yang lebih tua atau bahkan setelah menopause, tentunya dengan jumlah kejadian yang lebih kecil dibanding pada usia muda.
Diagnosis
Fibroadenoma dapat didiagnosis dengan tiga cara, yaitu dengan pemeriksaan fisik (phisycal examination), dengan mammography atau ultrasound, dengan Fine Needle Aspiration Cytology (FNAC). Pada pemeriksaan fisik dokter akan memeriksa benjolan yang ada dengan palpasi pada daerah tersebut, dari palpasi itu dapat diketahui apakah mobil atau tidak, kenyal atau keras,dll. Mammography digunakan untuk membantu diagnosis, mammography sangat berguna untuk mendiagnosis wanita dengan usia tua sekitar 60 atau 70 tahun, sedangkan pada wanita usia muda tidak digunakan mammography, sebagai gantinya digunakan ultrasound, hal ini karena fibroadenoma pada wanita muda tebal, sehingga tidak terlihat dengan baik bila menggunakan mammography.
Pada FNAC kita akan mengambil sel dari fibroadenoma dengan menggunakan penghisap berupa sebuah jarum yang dimasukkan pada suntikan. Dari alat tersebut kita dapat memperoleh sel yang terdapat pada fibroadenoma, lalu hasil pengambilan tersebut dikirim ke laboratorium patologi untuk diperiksa di bawah mikroskop. Dibawah mikroskop tumpor tersebut tampak seperti berikut :
a. Tampak jaringan tumor yang berasal dari mesenkim (jaringan ikat fibrosa) dan berasal dari epitel (epitel kelenjar) yang berbentuk lobus-lobus;
b. Lobuli terdiri atas jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar yang berbentuk bular (perikanalikuler) atau bercabang (intrakanalikuler);
c. Saluran tersebut dibatasi sel-sel yang berbentuk kuboid atau kolumnar pendek uniform
Terapi (treatment)
Terapi untuk fibroadenoma tergantuk dari beberapa hal sebagai berikut:
1. Ukuran
2. Terdapat rasa nyeri atau tidak
3. Usia pasien
4. Hasil biopsy
Terapi dari fibroadenoma mammae dapat dilakukan dengan operasi pengangkatan tumor tersebut, biasanya dilakukan general anaesthetic pada operasi ini. Operasi ini tidak akan merubah bentuk dari payudara, tetapi hanya akan meninggalkan luka atau jaringan parut yang nanti akan diganti oleh jaringan normal secara perlahan.
Referensi
1. The Ottawa Hospital Women’s Braest Health Center
2. www.breastcancercare.org.uk
3. NSW Breast Cancer Institute
4. (www.bci.org.aupublicguides_Mar06Fibroadenoma%20111005.pdf-)
syarif @ April 17, 2010
Konjungtivitis Gonore
Posted in: medicine | Comments (0)
Etiologi
Konjungtivitis gonore adalah radang akut dan hebat konjungtiva akibat infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae, yang merupakan bakteri gram-negatif, intraselular, dan aerobik diplokokus. Gonorrhoeae paling sering ditransmisikan melalui hubungan seksual, selain itu dapat juga ditransmisikan dari ibu ke neonatus saat proses kelahiran, neonatus terinfeksi karena melewati traktus genitalia ibu yang telah terinfeksi Neisseria gonorrhoeae, sehingga menyebabkan ophthalmia neonatrum dan infeksi neonatal sistemik.
Patofiologi
Neisseria gonorrhoeae menempel pada mukosa sel hos, dalam waktu 24-48 jam, penetrasi melalui dan melewati sel menuju spatium subepitelial. Respon dari host adalah invasi neutofil, kemudian diikuti pengelupasan epitel, pembentukan mikroabses submukosa, dan sekret purulen. Jika tidak diberikan terapi, maka neutrofil akan digantikan dengan infiltrasi makrofag dan limfosit.
Di klinik penyakit ini dijumpai dalam bentuk ophthalmia neonatrum (bayi berusia 1-3 hari), konjungtivitis gonore infantum (usia lebih dari 10 hari), dan konjungtivitis gonore adultorum.
Pada orang dewasa penyakit ini memiliki tiga stadium, yaitu stadium infiltrative, stadium supuratif, dan stadium penyembuhan.
Pada stadium infiltrative kelopak mata dan konjungtiva kaku, disertai rasa sakit saat perabaan. Kelopak mata membengkak dan kaku sehingga sukar dibuka. Terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal superior, konjungtiva bulbi memerah, kemotik, dan menebal. Pada orang dewasa terdapat perasaan sakit pada mata dan gejala infeksi umum. Pada umumnya menyerang satu mata terlebih dahulu.
Stadium supuratif, pada stadium ini terdapat sekret kental. Pada bayi mengenai kedua mata dengan sekret kuning kental. Bila masih dini sekret dapat serous yang kemudian akan menjadi kental dan purulen. Pada orang dewasa sekret tidak terlalu kental.
Tanda dan gejala
Gejala yang muncul adalah mata merah hiperakut berdurasi kurang dari 4 minggu dengan sensasi benda asing. Mata terasa seperti di ”lem”, sehingga susah untuk dibuka, terutama saat pagi hari bangun dari tidur, dengan disertai sekret yang purulen. Periode inkubasi konjungtivitis 2 sampai 7 hari. Papil konjungtiva, punktat keratitis superficial, dan kemosis juga sering didapati. Selain itu terkadang dapat ditetemukan perdarahan subkonjungtiva (subconjunctival hemorrhage), pseudomembran/true membrane, dan nodus preaurikular. Pada keadaan kronis atau berat dapat terjadi ulserasi marginal dengan uveitis anterior yang disebabkan oleh infiltrasi subepitel cornea perifer.
Penanganan
Diagnosis pasti penyakit ini adalah pemeriksaan sekret dengan pewarnaan metilen biru, dimana akan terlihat diplokokus didalam sel leukosit. Pada pewarnaan gram akan terlihat sel intraseluler dan ekstraseluler dengan sifat gram negatif. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan sensitivitas pada agar darah dan coklat. Terapi segera diberikan jika terlihat gram negatif dan diplokokus intaselular dan sangat dicurigai konjungtivitis gonore.
Pertama-tama sekret dibersikan dengan kapas yang dibahasi dengan garam fisiologik, kemudian diberikan salep penisilin setiap ¼ jam. Dapat juga diberikan penisilin tetes mata berupa larutan penisilin 15.000-150.000 U/ml tiap ¼ jam. Atau dapat juga diberikan dengan cara tetes mata penisilin 10.000-20.000 U/ml tiap 1 menit hingga 30 menit, lalu dilanjutkan dengan penisilin salep diberikan tiap 5 menit hingga 30 menit. Disusul dengan pemberian salep penisilin setiap jam selama 3 hari.
Pada kasus yang berat dapat diberikan penisilin atau ceftriaxon dalam bentuk injeksi. Penisilin 100.000 U/Kg/hari IV qid selama 7 hari, atau jika resisten terhadap penisilin dapat diberikan ceftriaxon 25-50 mg/Kg x 1 dosis, jangan melebihi 125 mg dalam sekali pemberian,pemberian ceftriaxon inidapat dikombinasi dengan doxycycline (100 mg oral bid). Pengobatan dihentikan jika pada pemeriksaan mikroskopik yang dilakukan setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut negaif.
syarif @ April 8, 2010
Rhinitis Alergi
Posted in: medicine | Comments (0)
Rhinitis Alergi
Definisi
Rhinitis alergi adalah peradangan atau inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut (Von Pirquet, 1986).
Sedangkan menurut WHO ARIA 2001adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rhinore, rasa gatal, dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantari oleh IgE.
Etiologi
Etiologi dari penyakit ini adalah adanya paparan dari alergen tertentu. Berdasar cara masuknya alergen dapat dibagi menjadi alergen inhalan (debu rumah tangga, serpihan epitel kulit binatang,dll), aleren ingestan (susu sapi, telur, coklat, kepiting, udang, kacang-kacangan, dll.), alergen injektan (penisilin, sengatan lebah, dll), dan alergen kontaktan (bahan kosmetik, perhiasan, dll).
Klasifikasi
Dahulu rhinitis alergi diklasifikasikan menjadi dua berdasar sifat berlangsungnya, yaitu:
Musiman (seasonal): terjadi di Negara 4 musim. Alergen penyebab spesifik, seperti tepung sari (pollen) dan jamur.
Sepanjang tahun (perennial): gejala penyakit dapat timbul intermiten atau persisten, tanpa ada variasi musim, sehingga dapat dijumpai sepanjang tahun.
Sifat berlangsungnya (WHO):
Intermitten (kadang-kadang): bila gejala muncul kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu.
Persisten (menetap): bila gejala muncul lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu.
Menurut berat ringannya penyakit:
Ringan: bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas sehari-hari, bersantai, berolahraga, belajar, bekerja, dan hal-hal lain yang mengganggu.
Berat: bila ditemukan satu atau lebih gangguan di atas.
Patofisiologi
Rhinitis alergi diawali oleh sensitisasi dan selanjutnya diikuti oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdapat 2 fase, yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) dan Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL). RAFC berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya, sedangkan RAFL berlangsung 2-4 jam setelah kontak dengan alergen, dengan puncak 6-8 jam (fase hiper-reaktifitas) setelah kontak dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam.
Pada kontak pertama dengan alergen, makrofag dan monosit yang berperan sebagai sel penyaji (APC) akan menangkap alergen yang menempel pada mukosa hidung. Setelah itu sel penyaji akan melepaskan sitokin seperti interleukin 1 (IL 1) yang akan mengaktifkan sel T helper (Th 0) untuk berproliferasi menjadi Th 1 dan Th 2. Th 2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL 4 dan IL 13 yang akan diikat oleh reseptornya pada permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan memproduksi IgE. IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat di permukaan sel mastosit dan basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini aktif. Bila mukosa yang telah tersensitisasi terpapar alergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) sel mastosit dan basofil. Akibatnya adalah lepasnya mediator-mediator kimia yang telah terbentuk, terutama histamine.
Terlepasnya histamine inilah yang menyebabkan terjadi bersin-bersin dan rasa gatal akibat rangsangan histamine pada reseptor H-1 pada nervus vidianus, selain itu histamine juga menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet hipersekresi dan permeabilitas kapile meningkat sehingga terjadi rhinorea. Gejala hidung tersumbat diakibatkan adanya vasodilatasi sinusoid.
Pada RAFL, sel mastosit juga melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan epitel target. Respon ini berlanjut hingga mencapai puncak 6-8 jam setelah kontak. Pada RAFL ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, netrofil, basofil, dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin (IL 3,IL 4, IL 5), granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GMCSF) dan ICAM 1 pada sekret hidung.
Tanda dan Gejala
Serangan bersin-bersin, hidung tersumbat, keluar ingus encer, bening, banyak. Serangan terjadi terutama bila pada pagi/udara dingin, kontak dengan debu, atau alergen lain. Juga dapat disertai gatal pada hidung dan mata, serta terkadang lakrimasi.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukn sclera dan konjungtiva merah, daerah gelap pada periorbita, pembengkakan sedang hingga nyata dari konka nasalis yang berwarna pucat hingga keunguan, sekret hidung yang encer, bening, dan banyak.
Pada anak-anak terdapat tanda-tanda yang khas:
Allergic shiner: bayangan gelap di daerah bawah mata, karena stasis vena akibat obstruksi hidung.
Allergic salute: anak tampak menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan karena gatal
Allergic crease: tampak garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah karena terlalu sering menggosok
Facies adenoid: mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit tinggi, sehingga akan mengganggu pertumbuhan gigi geligi.
Cobblestone appearance: dinding posterior faring tampang granuler dan edema
Geographic tongue: lidah tampak seperti gambaran peta.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain hitung eosinofil dalam apusan darah tepi, pemeriksaan IgE total, skin prick test.
Diagnosis Banding
Rhinitis vasomotor
Rhinitis infeksiosa
Rhinitis medikamentosa
Polip nasi
Komplikasi
Polip nasi
Otitis media defuse yang sering residif, terutama pada anak
Sinusitis paranasal
Terapi
Konservatif:
Menghindari kontek dnegan alergen penyebab dan eliminasi
Medikamentosa:
Anti histamine oral, antagonis H-1 (difenhidaramin, prometasin, loratadin, setisirin, fexofenadin)
Agonis alfa adrenergic, sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi anti histamine
Kortikosteroid topikal, bila gejala sumbatan tidak dapat diobati dengan obat lain (beklometason, budesonid, flunisolid, triamsinolon)
Sodium kromoglikat topikal, bekerja menstabilkan mastosit sehingga pelepasan mediator kimia dihambat.
Antikolinergik topikal, mengatasi rhinorea karena inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel efektor (ipratropium bromida)
Anti leukotrine (zafirlukast/montelukast), anti IgE, DNA rekombinan merupakan obat-obatab baru untuk rhinitis alergi
Bedah:
Bedah yang dapat dilakukan adalah konkotomi parsia, konkoplasti atau multiple outfractured. inferior turbinoplasti perlu dipikirkan bila konka inferior berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan kauterisasi menggunakan AgNO3 atau triklor asetat.
Prognosis
Baik
Daftar Pustaka
Soekardono, S., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Soepardi, E.A, Iskandar, N., Bashiruddin, J., Restuti, R.D, 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher edisi 6. Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta.
syarif @ April 8, 2010
