headermask image

header image

Demokrasi kah?

Sudah satu dekade lebih Indonesia melewati masa reformasi, yang konon katanya reformasi itu ditujukan untuk membongkar belenggu orde baru yang sangat mengekang, baik mengekang hak-hak rakyat, mengekang pikiran, dan lain-lain. Niatan-niatan luhur dan agung lahir seiring dengan semangat reformasi yang digaungkan oleh bangsa ini. Reformasi juga ditujukan untuk menjadikan negara ini menjadi lebih demokratis, namun apakah benar negara ini memang membutuhkan DEMOKRASI?

Apa yang terjadi pada Indonesia dalam satu dekade ini merupakan produk demokrasi yang konon sangat didamba-dambakan, tetapi apa yang kita lihat dalam satu dekade ini tidak jauh lebih baik dari apa yang diperbuat oleh orde baru. Mungkin hal positif yang dapat dibanggakan hanya kebebasan berbicara, namun sanga disayangkan masyarakat kita belum siap diberi kebebasan bicara, akibatnya orang bodoh pun ikut berbicara dan dianggap lah sebagai orang pintar, omong kosong dianggap sebagai ide yang sangat brilian, sangat menyedihkan sekali.

Jika kita melihat sejarah demokrasi, demokrasi yang sedang diterapkan di negara ini adalah demokrasi yang lahir dan berkembang di barat (baca: Eropa). Tentu lahirnya suatu sistem dipengaruhi oleh karakter suatu masyarakat tersebut, sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh suatu masyarakat tersebut, begitu pula dengan demokrasi yang sedang digembor-gemborkan oleh amerika, demokrasi tersebut muncul sesuai dengan karakter masyarakat mereka dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Begitu pula dengan dunia timur (baca:Asia), dunia timur pastinya juga telah memiliki sistem untuk menata sosial mereka, yang mana sistem tersebut telah dibangun secara turun-temurun, namun masyarakat timur sekarang cenderung terbuai oleh gambaran-gambaran indah demokrasi yang terus menerus dipublikasikan oleh barat ke timur, sehingga mereka lupa dengan kekayaan budaya mereka sendiri, lupa dengan sistem yang sebenarnya telah mereka miliki.

Jika memang demokrasi adalah sistem terbaik di negara ini, mengapa dalam satu dekade ini tidaj ada perkembangan yang berarti?, jika diajukan pertanyaan semacam ini, mereka yang pro demokrasi akan menjawab bahwa masyarakat kita sedang belajar menerapkan demokrasi, jadi butuh waktu untuk dapat mencapai hasil yang maksimal. baiklah, jika benar seperti itu. Tetapi sampai kapan kita akan menunggu bangsa ini benar-benar mampu menerapkan demokrasi? sampai kapan kita harus bersabar untuk menjadi bangsa yang lebih terhormat di mata dunia? sampai kapan kita akan memaksakan demokrasi ini?

Apakah kita tidak pernah bertanya, apa benar Indonesia memerlukan demokrasi yang seperti ini?

Setelah perolehan suara pemilu sudah semakin jelas, kita dapat dengan jelas melihat kasak-kusuk politik yang sangat menggelikan, kasak-kusuk yang bertujuan untuk menentukan siapakah yang akan menjadi teman dan siapakah yang akan menjadi lawan dalam 5 tahun kedepan. Mulai terlihat usaha membagi-bagi roti kekuasaan, ini sebuah pemandangan yang wajar dalam iklim demokrasi di negara kita. Menyedihkan memang, tapi apa boleh buat, realita yang ada sekarang seperti itu.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Saya sendiri belum benar-benar tahu apa solusi jangka pendek yang terbaik, namun jika membicarakan solusi jangka panjang maka tidak ragu lagi solusi itu adalah penidikan yang dapat membangun manusia indonesia menjadi manusia yang lebih cerdas dan religius, yang pandai dan tercerahkan.

Palestine and Solution

Lagu lama itu akhirnya diputar lagi oleh kaum yahudi, lagu yg menggugah kemarahan umat islam yang benar-benar mencintai saudara sesama muslim. Lantas apakah kita perlu terkejut dengan lagu lama ini? tidak, kita tidak perlu terkejut sedikit pun dengan lagu lama ini. Pembantaian dan penganiayaan yang dilakukan yahudi terhadap kaum muslim Palestina memang mengiris hati, namun kita tidak boleh terkejut akan kejadian itu, tidak terkejut bukanlah berarti kita tidak memiliki solidaritas terhadap saudara-saudara kita, jika kita tidak terkejut dengan kebengisan tersebut artinya kita paham betul siapa dan seperti apakah kaum yahudi.

Namun sayangnya, masih banyak kaum muslim yang terkejut dengan erlakuan biadab yahudi, banyak dari kaum muslim yang masih bertanya-tanya, mengapa mereka bias sekejam itu terhadap warga Gaza, mengapa yahudi memusuhi islam, mengapa mereka sangat menginginkan sekali tanah Palestina terutama Baitul-maqdis, dan bahkan ada yang masih bertanya siapakah bangsa yahudi itu?, seharusnya kini bukanlah lagi saatnya menanyakan semua hal di atas, seharusnya pertanyaan-pertanyaan itu dapat dijawab sendiri oleh tiap umat muslim di seluruh dunia. Namun sayang masih banyak umat muslim yang tidak benar-benar mengerti siapa yahudi sebenarnya, maka wajar lah jika aksi solidaritas untuk manusia banyak yang hanya diatasnamakan solidaritas kemanusiaan bukan solidaritas sesama kaum muslim.

Mungkin juga terdapat beberapa kaum muslim yang masih terkejut melihat perilaku yahudi meskipun mereka telah mengerti seperti apa watak kaum yahudi itu, bagi saudara-saudaraku yang masih terkejut, sebaiknya kita mulai berlatih untuk tidak terkejut, karena serangan terhadap umat muslim di Gaza kali ini tidak akan menjadi yang terakhir hingga yahudi benar-benar hancur. Yang sebaiknya kita lakukan adalah mempersiapkan umat ini untuk menyambut janji Allah akan kemenangan umat muslim atas yahudi, yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki kondisi umat ini, perbaikan yang komperhensif yang mencakup semua aspek.

Satu-satunya jalan untuk mencapai perbaikan tersebut adalah pendidikan, umat ini perlu memperoleh pendidikan yang benar, yang berdasar pada apa yang diajarkan Rosulullah dan tentunya tidak melupakan perkembangan IPTEK yang mau tidak mau sangat diperlukan saat ini. Memang hasil dari suatu pendidikan itu tidak akan langsung terlihat dalam waktu yang singkat, namun pendidikan memiliki jaminan kepastian akan keberhasilan yang tinggi. Selain umat ini perlu berjuang memperbaiki diri sendiri, masih ada satu hal yang harus kita lakukan, yaitu bersabar dan meyakini janji Allah akan tiba pembuktiannya. Dalam hal bersabar ini kita dapat mencontoh salah satu pahlawan islam yang berhasil membebaskan Palestina dari kaum salib, Shalahuddin Al-ayyubi, beliau bersabar dalam 40 tahun untuk dapat merebut kembali Palestina, dan dengan pertolongan Allah usaha tersebut sukses dengan gemilang. Semoga sejarah tersebut kembali terulang, amin!.

Skripsi! (memburu dosen)

Gila, g nyangka ngerjain skripsi ternyata bikin hidup lebih “menyenangkan”, gmana enggak menyenangkan, gw tiap hari mesti memburu dosen yg super sibuk, untuknya dosen gw bkn kategori dosen yang BR (banyak request) hahaha….   dari lima kali usaha ketemu dosen, cuma berhasil sekali doang, dan cuma ketemu g lebih dari 10 menit, hebat!

t=detail yg gw lakuin tipa usaha nyari dosen itu, pertama-tama nyari Sang dosen ke kantor kptu kedokteran (coz doi wakil dekan III), klo ternyata g ketemu d sana gw mesti nyari d kantornya yg laen, d bagian parasitologi (maklum dosen gw masih masa transisi jabatan coz dah mw habis masa tugas sbg wakil dekan, jadi kandang d parasitologi kadang d kptu), parasitologi itu d lantai 4 gedung radiopoetro, karena gw dah bertekad utk g naek lift jd gw mesti naek tangga. nah usaha k gedung kptu ma k gedung radiopoetro itu dlm sehari bisa bolak-balik,

makanya skripsi gw anggap sesuatu yg sangat “menyenangkan”