headermask image

header image

Regulasi WHO Yang Menyedihkan

Vaksin merupakan terobosan umat manusia dalam dunia kesehatan, dengan vaksin telah banyak penyakit yang dapat dihindari karena sistem kekebalan tubuh kita telah mengenali protein agen infeksius yang telah diberikan melalui vaksinasi. Dan hampir semua dari kita telah divaksinasi setidaknya untuk lima vaksin, yaitu vaksin hepatitis B, BCG, DPT, campak, dan Polio. Kelima vaksin itu merupakan vaksinai wajib di negara kita, dan kita dapat memperolehnya secara gratis karena telah disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah.

Namun tahukah kita regulasi yang sebenarnya terjadi dibalik pengembangan vaksin dunia, penngembangan vaksin dunia dikontrol oleh PBB melalui WHO dengan tujuan untuk membantu menyehatkan masyarakat dunia. Tetapi ada regulasi yang sangat menyedihkan yang telah dibuat oleh WHO, yaitu kewajiban untuk mengirimkan virus ke WHO tanpa kita tahu akan diapakan virus tersebut. Ternyata kenyataan yang terjadi sangat memalukan, virus-virus yang mereka dapat dengan gratis dari negara-negara di dunia mereka perjua- belikan dengan perusahan-perusahan vaksin hingga mencapai ratusan milyar dolar, seperti yang disampaikan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pada koran sindo “Yang saya maksudkan ini adalah terkait pengelolaan virus flu burung yang dikirim ke WHO. Selama ini telah terjadi ketidakadilan dalam pengelolaan itu. Hal itu tercermin dari bagaimana mereka mengumpulkan virus. Mereka mengumpulkan virus dengan dalih untuk kepentingan public health umat manusia sedunia.Tentu saja saya kirimkan, tetapi ternyata hasil dari pengolahan virus tersebut diperjualbelikan secara komersial dengan nilai yang mencapai ratusan miliar dolar.”

Yang lebih mengherankan lagi, terdapat organisasi yang mengatasnamakan GISN (Global Influenza Surveillance Network), organisasi ini tidak berada dalam struktur WHO, namun mereka membuat cara sedemikian rupa agar mereka dapat menjadi pihak yang bertanggungjawab, sehingga dapat memperoleh virus-virus tersebut dengan gratis. Ternyata organisasi tersebut berada dibawah kontrol Amerika Serikat, lebih tepatnya berada di bawah governing law USA, tetapi yang selalu dijadikan tameng adalah WHO.

Dampak dari kebijakan ini adalah tingginya harga-harga vaksin, bagaimana tidak, setiap negara yang memerlukan virus untuk membuat vaksin harus “meminta” kepada USA governing law. Maka wajar saja jika pemerintah kita hanya sanggup memberikan lima jenis vaksin gratis saja, padahal masih terdapat vaksin-vaksin lain yang sangat penting namun karena harga yang mahal pemerintah belum dapat memberikan secara gratis, seperti vaksin MMR, padahal infeksi Rubella pada ibu hamil fatal sekali akibatnya.

Seperti yang disampaikan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pada koran sindo mengenai vaksin polio, beliau mengatakan bahwa kita berhasil menjadi market leader untuk vaksin polio dengan menguasai 35% pasar dunia, namun sekarang WHO sedang merintis regulasi baru agar vaksin polio oral yang kita miliki tidak digunakan lagi dan diganti dengan vaksin polio injeksi, sedangkan vaksin injeksi ini hanya mereka yang dapat membuat.

Regulasi-regulasi tersrebut tidak lain adalah bukti kerakusan negara-negara maju yang tidak akan pernah memiliki niatan untuk memajukan dunia, namun hanya memajukan diri mereka sendiri, bahkan dalam bidang kesehatan yang menyangkut nyawa manusis sekali pun mereka tidak ragu-ragu lagi untuk terus berpikir layaknya seorang kapitalis sejati yang tidak memiliki hati manusia.

When you can’t count calories

Guidelines to follow when straight calorie counting is impractical.

1. Eat foods that are filling and low in calories. That means meals and snacks made with whole grains, such as brown rice, whole-wheat bread, and oatmeal, as well as legumes, such as lentils and other beans.

2. When you eat meat, choose lean cuts of meat and modest amounts — about 3½ or 4 ounces per serving.

3. Avoid fried foods. For stovetop cooking, it’s better either to stir-fry foods in nonstick pans lightly coated with a cooking-oil spray or to braise them in broth. Baking, broiling, and roasting add no extra fat to your meals.

4. Use low-fat or nonfat dairy foods. Milk, yogurt, and cheese are good sources of protein and calcium, but the whole-milk versions of these dairy products are very high in fat.

5. Avoid fast foods. Hamburgers, chicken nuggets, French fries, and other fast-food meals and snacks tend to promote weight gain for two reasons. First, they are high in fat, calories, or both. Second, the “value meals” are often excessively large and tempt you to overeat.

source: harvard medical school

Common cold

common cold atau yang biasa kita sebut flu, sepertinya sudah menjadi panyakit rutin tahunan, hampir setiap tahunnya kita terkena common cold, meskipun hanya sekali setahun, atau mungkin bisa lebih dari sekali. Common cold memang penyakit yang bisa dibilang ringan, namun sebaiknya kita juga harus hati memperlakukan common cold, karena banyak sekali salah kaprah yang terjadi dalam penanganan common cold.

.

Berpikir dua kali sebelum mengobati flu

Pada oktober 2007 yang lalu FDA (BPPOM milik USA) mengadakan pertemuan dan pada pertemuan tersebut merekomendasikan untuk menarik obat-obatan yang selama ini biasa digunakan untuk terapi flu, salah satunya adalah phenylpropanolamine yang merupakan nasal decongestant (pelega hidung), phenylpropanolamine ini banyak digunakan pada produk obat-abat flu sampai akhirnya ditemukan efek buruknya berupa hemorrhagic stroke pada wanita.
Selain obat-obatan kebanyakan dari kita juga percaya bahwa vit. C dan zink dapat membantu mengobati flu, namun sampai saat ini belum didapatkan bukti yang nyata.

.

Over-the-counter medicines (obat2 yg beredar di pasaran)

Obat-obat untuk flu bervariasi sesuai dengan gejala yang diderita pasien, obat-obat yang sering digunakan antara lain: acetaminophen (mengurangi rasa nyeri dan penurun demam), dextromethophan (penekan batuk), phenyleprine (nasal decongestant), dan terkadang antihistamin dan chlorpheniramine.

.

kombinasi obat-obatan yang belum memiliki bukti yang nyata tersebut justru akan membahayakan untuk infant dan anak-anak, sedangkan efektifitas obat-obat flu untuk orang dewasa selama ini masih menjadi perdebatan, meskipun selama dalam dosis yg tepat obat-obatan tersebut masih aman untuk orang dewasa. Namun banyak orang yang kurang memperhatikan dosis pemakaian obat yg sudah tertera pada tiap produk obat, sehingga seringkali kurang dari dosis semestinya atau melebihi dosis yang aman, sehingga dapat memberi efek yg buruk pada tubuh, seperti acetaminophen dapat menyebabkan gagal liver bila diluar batas dosis.